Selasa, 04 Desember 2012

Kebencianku, penyesalanku

Hidupku sempurna..
Aku memiliki satu keluarga yang berada, papa dan mama ku pengusaha besar. Aku bahagia hidup bersama mereka.
Apapun yang aku minta dituruti oleh mereka, apapun yang aku mau selalu terpenuhi, termasuk kasih sayang dan perhatian mereka terhadapku tak pernah berkurang.

Aku
Ananda Kerlian Sagitha, aku kelas dua SMP dan aku sekolah disekolah yang terkenal di kotaku.
Kebahagiaanku menjadi anak tunggal tak selama apa yang aku fikirkan kedepan, mamaku mengandung anaknya yang kedua. Awalnya terasa bahagia kalau aku nanti akan menjadi seorang kakak, aku berharap kami akan menjadi kakak adik yang akur, saling mengerti dan adil.

Tetapi.. Itu hanya mimpi dibalik kesenanganku, setelah adik ku lahir dan ikut berbagi kasih  dengan keluargaku, semuanya berubah. Namanya
Dianda Tirta Ferliana, sudah 5 tahun aku serumah bersamanya. Kini usiaku 16 tahun dan aku sudah kelas 3 SMA sedangkan adik ku masih berusia 5 tahun dan dia masih duduk dibangku Taman Kanak kanak.

Aku benci Dian, adik ku. Dia merebut semua yang seharusnya itu milikku. Bukan hanya itu saja, dia mengabil seluruh perhatian dan kasih sayang mama dan papa, semua yang diperlakukan mama dan papa tidak adil terhadapku, mereka amat membela Dian dengan berjuta alasan mereka rangkai untuk menutupi kesalahan Dian.


Dia tidak hanya mengambil apa yang aku mau, Dian juga merebut perhatian teman temanku, merusak hari ulang tahunku tahun lalu, dia menghancurkan pesta yang kami buat, dia mengganggu kesenangan yang sedang kami lakukan. 

Dan diapun berani menggusik hubungan ku dengan pacarku! Sungguh, aku benci sekali dengan adikku. Seandainya saja dia tidak di lahirkan semuanya tidak akan menjadi seperti ini.

Ulang tahun ku dengan adikku hanya berseling 2 hari. Rencana adikku, dia ingin sekali pergi ke Hongkong Disneyland bersamaku. Tetapi aku balas tatap sinis terhadapnya, lebih baik aku merayakan Sweet17 ku dirumah bersama teman temanku dibandingkan pergi bersamanya.


Adikku selalu meminta permintaannya itu kepada mama dan papa ku, tetapi mama dan papa  selalu sibuk dan tak punya banyak waktu untuk memenuhi permintaan Dian.


Mama    : "kita bisa pergi minggu depan setelah hari ulang tahunmu, sayang"

Papa      : "kita bisa lebih lama di hongkong setelah pekerjaan mama dan papa selesai"

Dian menangis dan berkata penuh rengek


Dian        : "hari ulang tahunku setahun sekali, dan tidak bisa ditunda!"

Papa       : "oke. Besok papa dan mama usahakan cuti untuk liburan bersamamu"

Aku hanya bisa diam dengan melihat Dian yang sedang merengek. Sangat menyebalkan, selama hampir 17 tahun ini aku tak pernah meminta pergi keluar negeri hanya untuk merayakan hari ulang tahun, jangankan hari ulang tahun, hari hari biasa saja aku tak pernah meminta walaupun saat itu orang tuaku tidak sesibuk saat ini. Tapi kenapa adikku bisa dan orang tuaku nurut kepadanya. Ini memang tidak adil.


Dua hari setelah itu.

Mama, papa dan adikku pergi liburan tapi tidak bersamaku. Aku lebih suka merayakan hari ulang tahun ku dirumah, menggelar acara dan hidangan sederhana bersama beberapa teman teman sekolahku.
Setidaknya aku bahagia dihari ulang tahun ku yang ke-17 ini tidak ada mahluk kecil perusak hati dan suasana.


Bayanganku tidak seperti apa yang aku banyangkan sebelumnya, ternyata Tuhan berkendak lain dari pada itu.
Aku melihat dari balik layar kaca, ternyata pesawat yang ditumpangi mama papa dan adikku terjatuh. Aku melihat daftar korban korban yang tidak bisa diselamatkan, ternyata mama dan papaku ada didaftar nama itu. Sedangkan adikku kritis di Rumah Sakit.


Aku menangis dan marah terhadap adikku

"mengapa kamu harus terlahir adik bodoh! Kamu sudah mengambil semua kebahagiaanku, mengganggu kesenanganku, menghancurkan permintaanku! Dan aku ikhlas kamu merebut semua itu! Tapi kenapa kamu tega menerenggut nyawa kedua orang tuaku, kenapa tidak kamu saja yang mati! Kenapa harus mama dan papa yang mati?!"


Aku merasa seperti orang yang amat sengsara, ternyata hari ulang tahun ku yang ke-17 lebih hancur dari pada tahun sebelumnya. Ternyata tidak adanya adikku, hari hari ku lebih buruk dibandingkan dia ada. 


Tiga hari setelah kematian mama dan papa


Segala pengurusan biaya dan perawatan adikku, jadi aku yang mengurusnya. Aku yang menunggu serta menjaga adikku yang jelas jelas dialah faktor dari semua masalah ini.

Aku benci terhadapnya

"kamu bisa mengambil kesenanganku dan kamu juga mahir ternyata menciptakan kesedihan untukku, adik bodoh"


Setiap hari aku mondar mandir dari rumah ke Rumah Sakit hanya untuk adikku. Sudah 5 hari adikku kritis dirumah sakit.

Malam tiba, aku pulang kerumah dan beristirahat sejenak. Saat aku duduk bersantai diruang keluarga, tatapanku tertuju kepada pintu kamar berwarna pink yang berada tepat dihadapanku, itu adalah kamar Adikku. Sudah lama aku tak pernah melihat isi dari kamarnya sejak dia berusia 4 tahun.


Kaki ku bergerak kearah pintu berwarna pink itu.
Saat aku mendorong sedikit pintunya, terlihat tembok dengan hiasan bernuansa pink. Memang adikku suka dengan warna merah muda ini. Aku ragu untuk memasuki kamar ini,tetapi hati kecilku ingin melihat seperti apa isi kamar adikku dan apa saja yang dia kerjakan selama dikamar saat aku memarahi dan menangisi dia.


Tatapanku tertuju kepada sebuah lemari baju, aku membuka lemari baju itu dan aku melihat kotak sebesar kotak bingkisan kado ulang tahun.
Aku membukanya, dan aku melihat ada buku kecil bergambar Barbie berwarna pink. Aku mengambilnya dan membaca isi dari buku itu.
 

"Buku milik Dianda Tirta Ferliana"

Terlihat tulisan besar kecil tak teratur dengan bahasa yang memang bisa dimengerti untuk usia adikku. Adikku memang pintar, anak sekecil dia subah bisa menulis dan bercerita.

"Kak kerlin marah, dia marah banget sama aku. Gara gara aku, kak kerlin putus sama pacarnya. padahal waktu itu aku sama kak Dito pergi cuma buat ngebeliin kak kerlin kado buat hari ulang tahunnya dan itu juga suruhan dari kak Dito. Tapi kak kerlin malah nuduh aku pergi sama kak Dito karena aku yg ngajak dan saat itu jg kak kerlin berpikiran aku sama kak Dito pergi trs ninggalin kak kerlin"

"Aku dimarahin sama kak Kerlin, gara gara dia mikir aku bakal merusak hari ulang tahunnya. padahal saat itu aku cuma kepingin ngasih kado buat kak kerlin dari hasil tabunganku di sekolah, tapi kak kerlin malah memarahiku"

"aku tau kok, kak kerlin pasti benci banget sama aku. aku kepingin banget bisa deket sama dia, waktu itu aku nganterin susu kekamarnya tapi waktu aku masuk kekamarnya aku gak sengaja nginjek miniatur yg lagi dia rangkai buat tugas sekolah dan gelas susu itu jatuh dilantai kamar kak kerlin. aku salah lagi buat kak kerlin bisa sayang sama aku"


"selamat ulang tahun ya kak kerlin yang ke-17, aku sayaaaang sama kak kerlin. mau kak kerlin galak sama aku tapi aku tetap sayang sama kak kerlin"


Air mataku menetes saat membaca semua isi diary milik adikku. Aku menangis dan menyesali semuanya.


"Ya Tuhan, kenapa kau mengirimkan malaikat kecil kesayangan mama dan papa tetapi tidak untuk ku? Salahkah aku untuk bahagia sedikit saat bersama adikku? Mengapa kau tidak menyatukan kami? Apakah kebencianku terhadap adikku bisa termaafkan Ya Tuhan? Ternyata, kesedihan adikku lebih dari apa yang aku rasakan. Selama ini aku telah menyakiti hati kecilnya, maafkan aku adikku, maafkan aku Tuhan"


Malam penyesalan ku berakhir dengan tertidur dikamar adikku.

Keesokan harinya, aku berusaha melupakan apa yang terjadi semalam dan aku akan berusaha menjadi kakak yang baik untuk adiknya.
Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit aku masih terbayang, tulisan kecil yang dia goreskan mengikuti hati dan perasaannya ternyata dia bisa membuat hatiku luluh untuk membacanya

Sampai di Rumah Sakit, aku lansung berjalan menuju kamar dimana adikku dirawat.
Saat sampai didepan kamarnya, terlihat beberapa suster dan satu dokter sibuk seperti sedang menyelamatkan hidup seorang ibu beserta bayinya.


Tak beberapa lama seorang perawat keluar dan menghampiriku, dia berkata.
"Nn Dianda, sudah tidak bisa kami selamatkan. Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin"

Ini kah jawaban kata maafku, Tuhan? Saat aku menyadari segala kesalahanku terhadap adikku, engkau hendak mengambilnya?
Apakah ini bagian dari rencanamu Tuhan? Penyesalanku yang pasti tidak akan pernah berhenti menyelimuti hari hariku?

Maafkan aku Dian, adikku. Aku gagal menjadi kakak yang baik untukmu, yang seharusnya menemani dan menjagamu. Aku hanya kakak yang jahat, yang hanya bisa melukai perasaanmu karena rasa kebencianku terhadapmu.

Maafkan aku. Semoga kamu tenang berada disana, I love you.